Jumat, 13 Juli 2012


Kekalahan Fisik Bagi yang Beriman Merupakan Peluang untuk Mati Syahid

 Setelah menyadari “sekedar menjalankan tugas”, kita renungkan mengenai tugas yang telah diberikan kepada Nabi Saw beserta umatnya yang mana jumlahnya masih beberapa belas orang.
 Dalam Al-Qur’an maupun hadist tidak didapat keterangan harus menang. Yang ada hanyalah perintah menyusun kekuatan setinggi batas kemampuan (QS. 8 : 60). Perintah menyusun kekuatan tetap berlaku walau dimulai dengan beberapa orang. Sebab, bilamana telah konsisten terhadap perintah tersebut itu, maka tentu tidak terpaku oleh persoalan hidup atau mati. Disitulah letak tawakkal. Berbuat, kemudian berserah diri kepada Allah SWT.
Belum terpisah dari uraian itu, kita lihat petikan ayat yang bunyinya :

… وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

“…..dan masa-masa kemenangan itu Kami pergilirkan di antara manusia, supaya jelas diketahui oleh Allah, orang-orang yang beriman itu, dan dijadikan-Nya sebagian di antara kamu mati syahid…” (Qs. Ali Imron : 140).
 Ayat di atas itu diturunkan setelah terjadinya perang Uhud. Pihak muslimin telah mengalami kemenangan fisik pada “Perang Badar”. Kemudian menemui kekalahan dalam “Perang Uhud”. Maka, dengan kekalahan itu diperingatkan jangan berkecil hati. Sebab, bahwa kekalahan pun kemenangan, pada hakekatnya adalah dipergilirkan Allah. Yang mana dari kekalahan itu dapat dijadikan pelajaran guna mengoreksi di mana letaknya kelemahan. Juga, supaya sebagian mu’min didapat yang mati syahid. Dan tersedia pula generasi penerusnya, kesempatan melanjutkan perjuangan.
 Menyadari bahwa adanya kekalahan itu sebagai penguji keimanan, sehingga bila bagi yang tujuannya semata-mata meraih kemenangan fisik, maka akan diketahui oleh Allah. Dalam hati sanubarinya merasa kapok dan menyesali dirinya terlibat dalam arena perjuangan.
 Berbeda lagi dengan kita bahwa kekalahan secara fisik itu dapat dijadikan kesimpulan; Yaitu bahwa adanya kemenangan atau kejayaan bagi pihak pancasilais pada zamannya  pun bukanlah disebabkan tentaranya berani mati. Justru sebagian mereka menjadi serdadu itu, karena andalan gaji guna menunjang hidup. Juga, bukan konsepsi mereka lebih jitu dari pada Islam.
Dan bukan pula karena kesaktiannya pancasila, yang membuat diri musyrik bila mempercayainya. Akan tetapi, memang bahwa masa-masa kejayaan dan kekalahan itu sedang dipergilirkan Allah, agar banyak diantara mujahid Islam yang mati syahid. Dan terbuka peluang bagi pelanjutnya dalam menghadapi ujian guna menjunjung “Kalimat-Kalimat Allah”.
                                                                        

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar